Jam terus berdenting, malam semakin larut membawa khayalku tinggi melambung mengudara. Mataku menerawang jauh sampai ujung bulan. Bertanya-tanya mengapa semua terjadi bertubi-tubi dengan masalah yang sama.
Tujuh tahun bersama bukanlah waktu yang sebentar, tapi kenapa aku masih buta membedakan mana cinta dan benci. Setelah semua yang kita lewati kenapa tidak membuat semua semakin kuat. Kenapa kita tidak belajar dari apa yang sudah kita terpa. Aku tau ada yang salah. Tapi apa yang salah? Kita?
Entah kenapa aku bisa senyaman ini denganmu saat tanganmu tak lagi mendekapku, saat telingamu tak lagi dipenuhi syairku, saat semua sibukmu adalah kesenanganmu. Entah mengapa aku bisa sampai sedalam ini mencintaimu, sampai hanya sesak yang tersisa ketika tak ada kabar darimu. Tapi kenapa kau bisa setega itu? Membiarkanku jatuh sejatuhnya. Memperlakukanku seakan aku hanyalah budakmu. Menamparku dengan kenyataan bahwa aku bukan benar-benar teman hidupmu. Mengapa kau membawaku terlalu jauh dalam duniamu yang kamu pun tak menginginkannya. Bisakah aku pulang saja? Izinkan aku.
Kamu tau? Semua harapan telah aku gantungkan kepadamu. Masa depan aku rangkai sedemikian rupa dan menyertaimu di dalamnya. Aku lantunkan namamu dalam doaku. Aku biarkan kaki ini melangkah sendiri berjuang mencari sedikit berlian dan ilmu sampai berdarahnya tak lagi aku hiraukan. Sampai sakitnya tidak sampai ke telingamu. Sampai bau keringat ini hilang sendiri. Tidak. Tidak. Kau tak tau itu.. Tak perlu tau.
Aku berikan segala kepercayaanku padamu, tapi tak pernah ada hasil baliknya. Lidah ini sudah terlalu letih memintamu berubah. Memintamu untuk lebih memegang tanganku. Segala celoteh ini tak ada yang kau tangkap seakan aku hanya meniupkan angin. Masihkah aku berharga dihadapanmu?
Minggu, 05 Agustus 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comments:
Posting Komentar