Sejatinya benar bahwa guru terbaik adalah pengalaman. Ia
bisa mendewasakan kita, membuat kita semakin kritis dan peka terhadap sekitar.
Rasanya sudah mutlak bahwa semua orang ingin dimengerti dan didengarkan. Egois?
Iya, manusiawi. Hal itulah yang mendasari hampir semua perubahan di dalam diri
gue ini.
Kira-kira setahun pada waktu kritis gua saat itu, gua
mengurung diri baik langsung atau di sosial media. Semua terjadi akibat
kebodohan gua yang sampe sekarang belum bisa gua tuntaskan penderitaannya.
Walau dari penderitaan itu lagi-lagi mendewasakan gue. Banyak hal yang gua
lewatin pada masa itu. Masa kelam dan gak ingin ngerasain lagi. Masa yang
hingga detik ini memaksa gua buat memerankan peran yang bukan seharusnya. Masa
dimana gua harus beradaptasi dengan apa-apa yang benar-benar bukan tempat
nyaman gue.
Perlu waktu tiga tahun untuk bangkit. Bukan waktu yang
sebentar untuk membiasakan diri dan mengikhlaskan apa yang memang sudah
terjadi. Bahkan sampe ketikan huruf ini, bukan hal mudah untuk berhenti
menyalahkan diri sendiri. Begitu menyiksanya saat harus mengganti peran dalam
waktu yang bersamaan. Terus menerus mengganti topeng dan menampilkan senyuman
palsu terbaik.
Proses bangkit itu gak luput dari dukungan para rekan-rekan
terdekat dan keluarga. Pada mereka yang selalu menyediakan telinga dan
pundaknya. Terima kasih banyak yang tak terbendung pada kalian yang namanya gak
bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih sudah menyadarkan bahwa ia memang
bukan hal baik untuk diperjuangkan lagi.
0 comments:
Posting Komentar