Minggu, 09 Desember 2018

---

at Desember 09, 2018

Sejatinya benar bahwa guru terbaik adalah pengalaman. Ia bisa mendewasakan kita, membuat kita semakin kritis dan peka terhadap sekitar. Rasanya sudah mutlak bahwa semua orang ingin dimengerti dan didengarkan. Egois? Iya, manusiawi. Hal itulah yang mendasari hampir semua perubahan di dalam diri gue ini.
Kira-kira setahun pada waktu kritis gua saat itu, gua mengurung diri baik langsung atau di sosial media. Semua terjadi akibat kebodohan gua yang sampe sekarang belum bisa gua tuntaskan penderitaannya. Walau dari penderitaan itu lagi-lagi mendewasakan gue. Banyak hal yang gua lewatin pada masa itu. Masa kelam dan gak ingin ngerasain lagi. Masa yang hingga detik ini memaksa gua buat memerankan peran yang bukan seharusnya. Masa dimana gua harus beradaptasi dengan apa-apa yang benar-benar bukan tempat nyaman gue.
Perlu waktu tiga tahun untuk bangkit. Bukan waktu yang sebentar untuk membiasakan diri dan mengikhlaskan apa yang memang sudah terjadi. Bahkan sampe ketikan huruf ini, bukan hal mudah untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Begitu menyiksanya saat harus mengganti peran dalam waktu yang bersamaan. Terus menerus mengganti topeng dan menampilkan senyuman palsu terbaik.
Proses bangkit itu gak luput dari dukungan para rekan-rekan terdekat dan keluarga. Pada mereka yang selalu menyediakan telinga dan pundaknya. Terima kasih banyak yang tak terbendung pada kalian yang namanya gak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih sudah menyadarkan bahwa ia memang bukan hal baik untuk diperjuangkan lagi.

0 comments:

Posting Komentar

 

Segores Awanku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos