“Gimana testnya hari ini, mas? Lancar, kan?” kataku.
Ia menjawab pertanyaanku dan asyik bercerita. Aku selalu suka memerhatikannya berbicara. Nada dan gaya bicaranya yang khas itu biasanya akan terus terngiang di memoriku. Senyum dan kedua bola matanya selalu berbinar. Andai aku dapat menjeda waktu untuk lebih berlama-lama.
Dari ceritanya yang aku ingat, kala itu ia diharuskan untuk menggambarkan seseorang yang sedang beraktifitas. Entah dari mana datangnya, ada aku dalam pikirannya. Menurutnya, aku berjiwa kuat sehingga digambarkannya aku sebagai atlet angkat besi. "The strongest avenger," katanya. Lalu ia memberi nama Patma dan menuliskannya di samping gambarnya.
Sedari awal, ia memang sudah melabeliku sebagai wanita yang kuat. Paham jika aku sedang rapuhnya sehingga aku terus diingatkan untuk dapat terus hidup dan menggapai mimpi. Oleh karena itulah, ia adalah sosok yang membuatku semakin kuat dan kuat lagi. Iya, se-ber-arti itu ia dalam hidupku. Walau pun pada akhirnya, “kamu akan tetep kuat kan kalau gak ada aku?” adalah kalimat penutup kisah ini.

0 comments:
Posting Komentar