Anginnya begitu kencang membawa butiran-butiran pasir yang dapat membutakan mataku. Tapi aku tak peduli. Aku teruskan perjalananku ini. Setapak demi setapak, aku nikmati semuanya walau sudah terasa sangat menyiksa. Sepanjang perjalanan hanya ada sesal di jiwa. Menyesal dan menyalahkan diri ini yang bodoh. Menyesal dengan segala keputusan dan apa-apa yang telah aku perbuat.
Makin lama, rasanya sudah tak kuat lagi aku melangkah. Aku dapati diri ini terpenjara. Terkekang oleh keegoisan, ke-over protektif-an dan ke-possesifan. Berbagai cara sudah aku lakukan untuk keluar dari penjara sialan ini tapi masih belum bisa. Air mataku mengalir deras. Menangisi diri yang tak berdaya. Aku ingin keluar Ya Tuhaaaan... begitu teriakku.
Berabad-abad lamanya aku terjebak disini. Terdiam sambil menggerogoti sisa kesabaranku. Suaraku habis teriak minta tolong. Sudah dipakai untuk berteriak sekeras mungkin tetapi orang itu hanya diam. Menari di depanku. Menikmati alunan nada dan tertawa atas deritaku. Lagi lagi aku bergelut sendiri melawan sepi. Haruskah aku tetap terdiam atau terus berjuang memaksa diri ini keluar dan menemukan kebahagiaanku sendiri?
Izinkan aku menyerah.
0 comments:
Posting Komentar