Minggu, 27 Januari 2019

Rumput Liar

at Januari 27, 2019
Aku terbangun oleh pelukan embun dan sapa hangat sang mentari. Tiada kalimat seindah syukur yang terucap tuk memulai pagi. Aku bersyukur bahwa aku ditakdirkan untuk menjadi sosok yang sekuat ini meski sering kali dianggap sebelah mata karena ternyata aku hanyalah rumput liar yang tidak seharusnya tumbuh di pelataranmu.

Ketahuilah, jika aku dapat memilih garis hidup, rasanya tak ingin sekali aku berada disini. Betapa tidak? Sekeras apa pun aku berjuang disini kau tak pernah mengindahkanku. Kau tak pernah memerlakukanku dengan layaknya. Bahkan kau acuh dan menganggapku tak ada.

Hey, sadarkah kau? Kau merusakku secara perlahan. Menginjakku berkali-kali hingga helaiku layu. Tak ku dapati pertolonganmu karena yang kau lakukan hanyalah menabur benih luka dan menyiraminya dengan air garam. Kau lakukan itu berulang-ulang hingga perihnya sangat menyiksa.

Hey, apa kurangnya aku? Telah ku lewati berbagai musim. Panas dan dinginnya sudah tak ku rasa. Bahkan diterpa badai sekalipun aku masih bertahan. Tapi kau masih saja tak tau diri.

Hey, jangan kau tanyakan lagi apakah diri ini akan tumbuh lagi disana. Sudahi saja semua karena suatu saat pasti akan ada seseorang yang mencabutku dari pelataranmu. Ia akan pindahkanku ke tempat yang lebih indah. Yang disana aku dirawatnya dan merasa lebih hidup. Akan digenggamnya selalu agar merasa sama-sama berjuang dan diperjuangkan. Yang dengannya aku bisa memandang sisi lain dunia ini. Ia akan mengajarkanku untuk berharap secukupnya dan bersyukur sebanyak-banyaknya. Bersamanya akan aku tegakkan helaiku, aku kuatkan akarku dan tumbuh menjadi rumput terindah yang hikmat berdansa hingga senja. Ia juga akan menemaniku menikmati heningnya malam sambil berceloteh tentang hiruk pikuk kota lalu bersama melantunkan doa-doa dan rencana yang baik-baik. Suatu saat nanti...

0 comments:

Posting Komentar

 

Segores Awanku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos